top of page

MERIAM SI JAGUR

EST. ABAD KE-16

Warisan agung yang sarat akan mitos, berdiri tegak sebagai saksi sejarah Jakarta. Simbol keberanian dan nilai budaya asli yang abadi.

si-jagur--IST_ratio-4x3.webp

Meriam Si Jagur, Museum Fatahillah Jakarta.

Asal-usul Sejarah

Ditempa di Macau oleh Manoel Tavares Bocarro pada abad ke-16, Meriam Si Jagur merupakan simbol kekuatan maritim yang monumental. Meriam ini memiliki berat 3,5 ton dengan panjang 3,85 meter dan diameter laras 25 sentimeter. Nama “Si Jagur” berasal dari Benteng Santo Jago (St. Jago de Barra) di Macau, tempat pertama meriam ini dipasang.

Kemudian meriam Si Jagur dibawa ke Batavia oleh Belanda setelah merebut Malaka pada 1641. Pada awalnya oleh VOC meriam tersebut ditempatkan di Benteng Batavia untuk menjaga pelabuhan, lalu dipindahkan ke magasin artileri dekat Jalan Tongkol. Setelah Kasteel Batavia dihancurkan oleh Daendels tahun 1809, pusaka ini dipindahkan ke Museum Oud Batavia.

Kini Meriam Si Jagur berdiri megah di bagian utara Taman Fatahillah, membelakangi Balai Kota (Stadhuis). Menjadi saksi bisu transisi kekuasaan kolonial, ia tegak sebagai monumen sejarah Jakarta yang kaya akan nilai budaya dan warisan leluhur.

download.jpeg

Apa Itu Meriam?

Meriam adalah senjata artileri berat yang dirancang untuk melontarkan proyektil besar dalam jarak jauh menggunakan tenaga dari ledakan bubuk mesiu atau bahan pendorong lainnya. Secara historis, senjata ini telah digunakan selama berabad-abad dalam peperangan, baik untuk mempertahankan benteng, menyerang kapal musuh, maupun sebagai pendukung pasukan di medan tempur. Ukuran dan daya hancurnya yang besar menjadikan meriam sebagai salah satu elemen paling dominan dalam strategi militer sebelum era rudal modern, dengan kemampuan menghancurkan struktur bangunan yang kokoh sekalipun.

 

Struktur sebuah meriam terdiri dari beberapa bagian utama yang bekerja secara sinergis. Komponen utamanya adalah laras, yaitu tabung panjang tempat proyektil meluncur keluar, yang ujung depannya disebut moncong (muzzle) dan pangkal belakangnya disebut pangkal (breech). Di dalam pangkal terdapat ruang bakar tempat terjadinya ledakan mesiu. Untuk mendukung beratnya, laras biasanya diletakkan di atas kereta meriam (carriage) yang dilengkapi roda agar mudah dipindahkan. Selain itu, terdapat pula lubang sulut atau mekanisme pemicu untuk menyulut bahan peledak yang akan mendorong peluru keluar dengan kecepatan tinggi.

2588456817.jpg

Deskripsi Meriam Si Jagur

Dimensi dan Material:

Meriam Si Jagur terbuat dari perunggu  hasil cor yang merupakan ciri khas meriam Portugis pada abad ke-16, Meriam ini 3,5 ton dengan panjang 3,85 meter, diameter laras 25 sentimeter dan lingkar laras ~122-206 cm.

Komposisi logam perunggu memungkinkan meriam tetap utuh hingga kini, meski mengalami oksidasi dan patina coklat-hitam. Tidak ada sumber resmi mencantumkan berat peluru, namun teks lama menyebut meriam ini menembakkan peluru “24 pound” (≈10,9 kg)

Ciri Fisik Eksternal:
Laras meriam (barrel) berbentuk silinder panjang dengan moncong terbuka di ujung depan. Bagian laras depan (muzzle) meruncing sedikit (tidak mengembang lebar) dan dikelilingi cincin pelindung (cincin pangkal) berbentuk melengkung.

 

Pada kedua sisi laras terdapat trunnion (tonjolan silindris) yang digunakan untuk menyandar dan mengarah pada dudukan meriam (kereta artileri) saat ini meriam ini diletakkan statis sehingga tonjolannya tidak terlihat menempel pada roda atau kereta. Bagian laras ini juga memiliki dua “gagang” atau knocker berupa cincin/bentuk melengkung menyerupai naga. Permukaan logam meriam juga bertekstur kasar, akibat proses cor.

Selain itu, di bagian atas breech meriam ini terdapat tulisan latin “EX ME IPSA RENATA SUM” yang kurang lebih berarti: “Dari diriku sendiri, aku dilahirkan lagi”, dan terdapat motif Fleur-de-lis (bunga lili) di sisi kanan dan kiri tulisan.

Pada bagian paling belakang (cascabel) terdapat ukiran berupa motif flora yang melingkar dan memiliki tekstur kasar akibat cetakan manual. Ornamen paling mencolok yang dimiliki meriam ini adalah relief tangan mengepal di dengan posisi ibu jari terjepit oleh jari telunjuk dan tengah yang dikenal sebagai simbol Mano in Fica, yang juga mengenakan gelang manik-manik.

jakarta_indonesia_si-jagur-canno-20220518104515.webp
Tetangga_Object02_SiJagurcannon_03.jpg

Analisis

Daya tarik utama Si Jagur justru tidak hanya terletak pada nilai historisnya, tetapi juga pada simbol “jempol kejepit” yang oleh masyarakat Batavia dipahami sebagai lambang kesuburan. Simbol ini dihubungkan dengan tradisi lokal yang akrab dengan tanda kejantanan dan kesuburan, sehingga meriam tersebut kemudian dianggap keramat dan dipercaya dapat mendatangkan berkah, termasuk kesuburan dan keselamatan. Akibatnya, Si Jagur tidak diperlakukan semata sebagai peninggalan militer, melainkan juga sebagai medium harapan dan ritual masyarakat.

Namun, seiring modernisasi dan perubahan cara pandang terhadap benda bersejarah, makna sakral Si Jagur perlahan memudar. Pemerintah memindahkannya beberapa kali untuk mengurangi praktik pemujaan dan mengembalikannya ke fungsi edukatif sebagai koleksi museum. Kini, Si Jagur lebih banyak dibaca sebagai simbol warisan kolonial dan obyek wisata budaya di Kota TuaSecara analitis, Si Jagur menunjukkan bahwa sebuah artefak dapat memiliki dua kehidupan sekaligus: sebagai bukti sejarah perang dan sebagai objek kepercayaan masyarakat. Nilai pentingnya terletak pada kemampuan benda ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memberi makna baru pada warisan kolonial sesuai dengan kebudayaan dan kebutuhan zamannya. Dengan demikian, Si Jagur adalah contoh kuat tentang bagaimana sejarah material, mitos lokal, dan pariwisata saling bertemu dalam satu objek. Jakarta, bukan lagi sebagai benda keramat.

Mitos & Kepercayaan

Menelusuri jejak legenda dan kepercayaan mistis yang telah menyelimuti keberadaan Meriam Si Jagur selama berabad-abad di tanah Jakarta.

Positive Pregnancy Test
MITOS KESUBURAN

Legenda populer masyarakat tentang ritual pengharapan keturunan bagi mereka yang mengunjungi pusaka bersejarah ini.

PENJAGA GAIB

Kisah tentang suara dentuman misterius yang terdengar saat malam purnama sebagai tanda peringatan bahaya.

Siluet Potongan Puzzle
MISTERI LOKASI

Terdapat legenda dan folklore tentang bagaimana meriam ini berpindah tempat secara misterius di era kolonial.

Simbolisme Meriam

MANO IN FICA

Ikonografi tangan mengepal di bagian belakang meriam merupakan simbol 'mano in fica'. Meskipun sering disalahpahami, secara historis ini adalah simbol Portugis kuno untuk kesuburan dan penangkal nasib buruk, yang kini menjadi legenda sentral bagi pengunjung setia Meriam Si Jagur.

AKULTURASI TEKNOLOGI

Struktur masif Meriam Si Jagur merefleksikan keunggulan teknik pengecoran logam abad ke-16. Inskripsi Latin yang terukir menunjukkan identitasnya sebagai artefak perang yang tangguh, sekaligus menjadi saksi bisu dari persimpangan jalur perdagangan dan kekuatan kolonial di Nusantara.

KEKUATAN SEJARAH

Lebih dari sekadar senjata militer, Meriam Si Jagur telah bertransformasi menjadi objek mitologi urban. Nilai budayanya terletak pada kemampuannya untuk bertahan dalam narasi lokal sebagai simbol kekuatan spiritual dan warisan sejarah yang tetap relevan bagi masyarakat Jakarta hari ini.

Interpretasi

Meriam Si Jagur merupakan artefak peninggalan Portugis dengan ciri khas simbol mano in figa (jempol diapit jari), yang bermakna kepercayaan, kesuburan, dan ejekan terhadap musuh (Belanda), bukan simbol pornografi. Dalam perkembangan budaya lokal, simbol ini mengalami pergeseran makna menjadi objek mitos kesuburan, dipercaya dapat membantu memperoleh keturunan. Kepercayaan tersebut memicu praktik ziarah dan ritual hingga masa pascakemerdekaan. Pemerintah kemudian memindahkan meriam beberapa kali (sejak 1950) untuk mengurangi praktik takhayul. Penempatan akhirnya di area terbuka dan pembatasan fisik mengubah persepsi publik, dari benda keramat menjadi objek sejarah. Meriam Si Jagur mencerminkan transformasi makna budaya dari simbol kolonial Portugis menjadi objek mitologis lokal, lalu direkonstruksi kembali sebagai warisan sejarah melalui kebijakan pelestarian.

Referensi

Nanang Bustanul Fauzi, F. E. (2018). IKONOGRAFI SEBAGAI LANGKAH KERJA KREATIF CIPTA SASTRA ANAK DARI RELIEF CANDI. Hasta Wiyata: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 1-7.

Samodro. (2011). Makna Tanda Gestur Seksual pada Meriam Si Jagur di Museum Fatahilah, Jakarta. MUDRA Jurnal Seni Budaya, 193-200.

Setiawan, M. I. (2023). EVALUASI TINDAKAN KONSERVASI PADA KOLEKSI MERIAM DI MUSEUM SEJARAH JAKARTA.

Syofiadisna, P. (2020). KAJIAN IKONOGRAFI DAN IKONOLOGI TERHADAP TIGA IKON GAJAH DI DALAM GEREJA SAINT PIERRE AULNAY PRANCIS PADA ABAD KE-12. KALPATARU, Majalah Arkeologi, 51-64.

Saksono, A. (2007). Museum Fatahilah Jakarta Story About Si Jagur. WordPress.

Matanasi, P. (2019). Sejarah Artileri Indonesia. Tirtoid.

Utomo Priyambodo, M. Y. T. (2022). Misteri Meriam ‘Cabul’ Si Jagur yang Dipakai Belanda  di Batavia. National Geographic Indonesia.

Dian Permatasari, G. H. P. (2022). Meriam ‘Si Jagur’. TETANGGA EXHIBITION.

IMG_20260511_232048.jpg

Rifqy Juanda Lubis

Our Team

lightroom6882-000.jpg

Sarina Febriyanti

IMG_20260511_232600.jpg

Faiz Saifani

SINGKAP MITOS - KUNJUNGI LAPANGAN FATAHILLAH - JAKARTA BERSEJARAH

bottom of page